PENGGEMAR judi togel sudah merambah ke
seluruh lapisan masyarakat. Di desa atau di kota sama saja, justru masyarakat
yang ekonominya pas-pasan, seperti petani, pedagang, juga PNS, lebih bergairah.
Hampir seluruh denyut hidupnya terbuai mimpi kemenangan berlipat-lipat, dari
pilihan angka yang diyakini akan nongol. Daya magnet togel memang menakjubkan,
tanpa sosialisasi dengan singkat membuat banyak orang suka, mau, dan mampu ikut
serta. Yang kalah judi togel banyak, yang menang dan diuntungkan juga tidak
sedikit. Yang rutin kecipratan rezeki adalah bandar, pengepul, pengecer dan
oknum aparat yang main mata tidak bertindak sesuai tugasnya. Vibrasi daya tarik judi togel,
membuat penggemarnya seperti orang kasmaran. Tiada lagi rasa takut, dosa dan
malu, rela berkorban, yang kalah atau menang sama saja makin ketagihan, nyaris
tanpa resah, tampak hapy-hapy saja. Nasihat orang bijak, atau kritikan pedas
oleh orang yang berteori logis dan merasa waras, nyaris tanpa menyentuh akar
permasalahan, untuk menghentikan wabah togel itu.
Para penggemar judi yang satu ini berupaya mendapatkan uang untuk
bisa membeli togel. Selain tetap berupaya memenuhi sembako, mereka juga kini
harus menyisihkan jerih payah untuk membeli 'mimpi'. Namun, sangat dimungkinkan
kebutuhan sembako terpaksa harus dikalahkan akibat harapan dan mimpi membuai
yang ditawarkan oleh kebutuhan togel tersebut. Sangat dimungkinkan juga,
kecenderungan perilaku sebagian masyarakat maniak togel ini bisa menjadi gaya
hidup yang mentradisi. Jika perilaku tersebut tidak segera diobati, togel akan
semakin merasuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Layaknya makanan, togel
menjadi kebutuhan yang harus tersaji setiap hari. Ini artinya, masyarakat mau
tidak mau harus mengorbankan kebutuhan pokok lainnya, meski disadari atau tidak
upeti tersebut hanyalah untuk menggelembungkan pundi-pundi sang bandar.
Gerakan pemberantasan judi, khususnya togel, mustahil akan
berhasil tanpa dukungan masyarakat, dan didukung political will dari
pemerintah. Sekarang ini masyarakat baru sadar bahwa togel sebagai judi yang
dilarang secara hukum, tetapi sebagai dinamika kehidupan sosial, belum dirasa
sebagai penyakit masyarakat. Justru dirasa sebagai hiburan dan harapan. Cobalah
perhatikan eksistensinya, nyaris tidak ada penolakan resmi dari lembaga adat/lembaga
desa di mana togel itu marak. Belum pernah ada orang kasepekang karena togel,
belum ada anggota masyarakat kena sanksi adat karena judi. Hanya sedikit orang
yang peduli dan alergi, tidak bisa menerima judi secara akal sehatnya sendiri,
meneriakkan anti judi, tetapi masyarakat penggemar togel dengan tenang jalan
terus.